Psikologi Memaafkan*

Memaafkan

Oleh Fatma Puri Sayekti, M.Psi.**

Memaafkan adalah proses melepaskan rasa nyeri, kemarahan, dan dendam, yang disebabkan oleh pelaku. Memaafkan adalah momen perpindahan dari suatu momen ke momen lain. Memaafkan adalah keputusan untuk mengalirkan dendam dan hasrat melakukan pembalasan.

Everett Worthington Jr. menyatakan bahwa memaafkan adalah mengurangi atau membatasi kebencian serta dendam yang mengarah kepada pembalasan. Memaafkan lebih dari sekadar membuang hal-hal negatif, tetapi juga menggerakkan seseorang untuk merasakan kebaikan dari pelaku. Dengan kata lain, memaafkan tidak hanya mengenyahkan emosi negatif, tetapi juga menggerakkan seseorang ke perasaan positif.

Philpot (2006) mengatakan memaafkan sebagai proses (atau hasil dari proses) yang meliputi perubahan perasaan dan sikap terhadap pelaku. Sejumlah peneliti memandangnya sebagai proses yang diniatkan dan disengaja, didorong oleh keputusan untuk memaafkan. Hasil dari proses ini adalah menurunnya dorongan untuk memertahankan perasaan tuntutan melepaskan emosi negatif kepada pelaku.

Memaafkan adalah state of mind yang melibatkan pikiran, perasaan, dan tindakan tertentu. Konteks memaafkan ini muncul dalam kondisi dimana seseorang mempersepsikan tindakan orang lain yang tidak adil, kemudian orang itu memilih untuk menjadi OBJEK daripada menjadi SUBJEK. Tentu pikiran tersebut membuat marah, kesal, kecewa, geram, putus asa, dan hal negatif lainnya. Semakin lama dipendam, rasanya semakin menyakitkan.

Seringkali perasaan negatif ini ditindaklanjuti dengan langkah pasif atau tidak berbuat apapun. Entah karena malu, sungkan, takut, tidak diperbolehkan, tidak biasa dilakukan orang lain, dan sebagainya. Keengganan maupun ketidakmampuan menyampaikan ketidaknyamanan ini justru menjadi dendam, seperti api di dalam sekam. Semakin intens perasaan ini disimpan, sangat berpotensi menyiapkan tindakan-tindakan balas dendam dengan cara yang berlebihan, brutal, dan kriminal. Dr. Hayes menganalogikan “Seseorang yang tidak memaafkan itu seperti orang yang terkena sabetan clurit dari orang lain, dan membawa clurit itu kemana-mana.” Sudah tahu sakit dan terluka, tapi menyimpan terus hal yang membuat luka itu, dan membawanya kemana-mana.

Dalam konteks memaafkan, seseorang yang mengalami hal yang telah disebutkan sebelumnya, sadar bahwa ada hak-haknya yang disinggung atau dilangkahi. Ia juga menyadari bahwa rasa marahnya muncul, kemudian memilih menjadi SUBJEK daripada OBJEK. Subjek artinya ia yang memegang kendali atas semua peristiwa hidup yang dialami. Sebaliknya, menjadi objek artinya merasa lemah, tidak berdaya, tidak punya kuasa untuk melakukan suatu hal atas apa yang menimpa dirinya sendiri. Selain melepaskan rasa marah, seseorang yang memaafkan juga mampu menemukan berbagai hikmah atas kejadian yang dialami untuk perkembangan dirinya.

Sikap memaafkan tidak sekadar: a) menerima dengan pasrah apa yang terjadi, b) menunda kemarahan, c) bersikap netral terhadap orang lain, menganggap wajar, d) membuat diri sendiri merasa lebih baik.

MEMAAFKAN BUKANLAH…

  1. Memaklumi. Perbuatan yang melanggar hak-hak seseorang, tetaplah dikatakan salah. Mengatakan bahwa “Maklum, dia orangnya memang begitu,” menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk membela haknya. Perbuatan keliru harus tetap dinyatakan keliru.
  2. Melupakan. Dalam Psikologi, melupakan sama dengan mengingat. Melupakan tidak pernah soal membuang memori negatif keluar dari otak, karena tidak akan bisa. Melupakan justru menyembunyikan, menumpuk dengan memori-memori baru sehingga lama-lama terkubur. Namun, memori emosi negatif yang intens justru akan lebih mudah keluar dari bank ingatan jika dipantik sedikit saja. Memaafkan adalah soal tetap mengingat peristiwa yang dialami, dan pada saat yang sama, terbebas dari emosi negatif berupa kemarahan, kekesalan, dan dendam.
  3. Pembenaran. Mengatakan bahwa “Dia memang sepantasnya melakukan hal itu kepada saya karena…”, menunjukkan bahwa seseorang menganggap wajar perbuatan salah orang lain dan membenarkan orang lain melakukan sesuatu yang buruk kepadanya. Misalnya, “Wajar dia mencolek saya, karena saya pakai baju terlalu pendek.” Padahal mencolek tubuh orang lain tanpa izin sendiri merupakan perbuatan yang keliru.
  4. Menenangkan diri. Mencoba membuat hati tenang dan damai, belum tentu tanda seseorang telah memaafkan. Karena ketika ingatan atas peristiwa itu muncul kembali dan hati masih dipenuhi amarah dan dendam, maka sejatinya itu belum memaafkan.
  5. Memaafkan palsu. Dalam situasi sosial yang dianggap wajar, adalah perlu seseorang meminta maaf dan diikuti dengan jawaban, “Iya, saya memaafkanmu.” Padahal, lebih penting memerhatikan bagaimana seseorang ketika mengatakan itu. Mimik muka, gerak tubuh, getaran suara, intonasi, tarikan napas, dan degupan jantung. Ketika proses mengatakan memaafkan tapi dengan muka memerah, suara tercekat, dan dada naik turun, tandanya belum memaafkan. Karena masih ada emosi negatif yang terpantik muncul.
  6. Tidak mengadili. Misalnya seseorang telah membunuh anggota keluarga orang lain, maka bisa jadi keluarga korban telah memaafkan dan melepaskan rasa marahnya. Tapi, tidak ada kewajiban bagi mereka untuk datang ke pengadilan dan mencabut perkara, lalu meminta pelaku tidak dipenjara. Aturan dan hukum tetap perlu ditegakkan.
  7. Tidak selalu harus diiringi dengan perdamaian. Contohnya ketika istri mengalami kekerasan dalam rumah tangga secara berulang lalu mengajukan gugatan cerai, bisa jadi setelahnya ia telah memaafkan suaminya. Tapi ia tidak harus berdamai dan membatalkan gugatan cerai. Sesuatu yang telah melukai fisik dan psikis tidak selayaknya berakhir damai atau rujuk, seolah tidak pernah terjadi suatu apapun.

YANG HARUS DIMAAFKAN

Tidak semua orang atau hal harus dimaafkan. Hanya orang-orang tertentu yang telah melanggar hak dan martabat seseorang. Orang itu bisa jadi diri sendiri, orangtua, anak, menantu, ipar, saudara kandung, saudara dekat dan jauh, suami, istri, guru, murid, penjual, pelanggan, rekan kerja, sahabat, teman, pacar, atasan, bawahan, tetangga, dan lain-lain. Bahkan saya membaca satu lagi pihak yang perlu “dimaafkan” dalam konteks tertentu, yaitu Tuhan dan nabi.

Misalnya saat Hanum Rais dan Rangga Almahendra dalam bukunya I am Sarahza (2018) telah menikah 10 tahun dan tak kunjung diberi keturunan. Segala usaha telah dicoba, mulai dari inseminasi hingga bayi tabung berkali-kali. Dua kali keguguran, dan selebihnya kedua orang ini sehat dan kondisinya sangat memungkinkan untuk memiliki anak. Tahun ke-10, Hanum depresi hingga melewatkan waktu shalat, tidak membaca Alquran, dan berulang kali mempertanyakan “mengapa” ke tuhan. Mengapa ia yang berpendidikan tinggi, suaminya orang baik-baik, ayah dan ibunya tokoh negara yang dihormati, tak pernah zina dan melakukan maksiat besar, harus menanggung perasaan rindu memiliki buah hati sekian tahun. Sedangkan ketika melihat anak-anak yang dibuang di panti asuhan, ia merasa miris. Mengapa ia yang merasa sanggup mendidik dan membesarkan anak dengan baik, justru tidak kunjung diberi momongan? Hingga suatu titik ia merasa harus terus pasrah setelah usaha yang dijalani. Saya menyebutnya, suatu waktu, bahwa ia juga perlu “memaafkan” tuhan. 

ALASAN MEMAAFKAN

Ada beberapa alasan mengapa seseorang perlu memaafkan:

  1. Seseorang butuh lebih dari sekadar simpati dan perhatian dari sekeliling. Perasaan senang ketika dibela, diperhatikan, dipihak, diberi komentar bernada simpati, atau menceritakan berulang kisah pilu yang dialami, akan membuat seseorang “senang” menjadi korban dari tindakan pelaku. Padahal, yang dibutuhkan sejatinya bukanlah itu semua, tapi pelepasan emosi negatif yang bercokol di dalam pikiran.
  2. Seseorang tidak cukup dengan membuktikan bahwa secara moral ia benar dan pelaku salah. Dengan menguraikan kesalahan-kesalahan pelaku dalam berbagai kesempatan, sebetulnya seseorang justru memperbesar rasa tidak nyaman yang ada dalam dirinya sendiri. Ketika orang lain yang awalnya tidak tahu duduk perkaranya kemudian menjadi yakin bahwa secara moral pelaku memang salah dan korban benar, nyatanya tidak membuat korban merasa lebih tenteram dan nyaman hidupnya. Karena persoalan utamanya belum diselesaikan.
  3. Seseorang tidak cukup dengan melakukan pembenaran atas kemarahan yang terjadi. Banyak orang berpikir bahwa cara menunjukkan kemarahan dan rasa kecewa adalah dengan tidak memaafkan orang lain. Padahal, pelaku mungkin hanya melakukan hal buruk satu kali kepada korban (dan ia mungkin tidak peduli dan tidak sadar atas perilakunya), tetapi korban yang meneruskan rasa tersiksa itu kepada dirinya sendiri dalam jangka waktu lama. Lalu, siapa yang membuat perkara, sebetulnya?
  4. Seseorang tidak akan menjadi pecundang hanya karena memaafkan orang lain. Korban menganggap bahwa dengan memaafkan, ia akan menjadi pecundang yang mengaku kalah, dan membuat pelaku menjadi besar kepala. Padahal, lebih pecundang mana, menemukan kelegaan pribadi dengan memaafkan lalu melakukan hal-hal positif, atau berkubang dalam rasa marah yang membuat diri terpuruk? Bekerjasama dengan pelaku dalam kemarahan, atau memberi kenyataan pada pelaku bahwa tindakannya tidak memberi efek menyakitkan pada diri?
  5. Seseorang yang memaafkan bukan sebagai bentuk ketidakmampuan membela hak. Korban menyatakan dengan memaafkan, artinya tidak mampu membela hak yang dilanggar pelaku. Nyatanya, keinginan membela hak yang dilanggar orang lain, sembari melanggar hak sendiri untuk menikmati hidup dengan emosi positif, adalah dua hal yang paradoks.
  6. Seseorang yang memaafkan, bukan berarti memberi keuntungan kepada pelaku dan memungkinkan pelaku berbuat lagi di kemudian hari. Jangan Ge-eR (gede rasa). Pelaku mungkin saja tidak peka, tidak tahu bahwa perbuatannya merugikan korban, khususnya jika korban tidak asertif. Toh, memaafkan adalah aktivitas pribadi yang tidak perlu dipublikasikan kepada pelaku. Ketika korban memutuskan memaafkan dan dan menggantinya dengan perasaan-perasaan positif, siapa sebenarnya yang diuntungkan?

CARA MEMAAFKAN

Setelah kita mengetahui apa itu pemaafan, hakikat memaafkan, siapa saja yang harus dimaafkan, juga alasan mengapa harus memaafkan, sekarang kita berlanjut pada bagian akhir: bagaimana cara memaafkan? Ada beberapa tahap yang perlu disadari dan merupakan cara mencegah lekatnya emosi negatif, juga melepaskan emosi negatif yang terlanjur melekat dalam diri:

  1. Meditasi cinta kasih. Rilekskan tubuh.
  2. Kuasailah pikiran.
  3. Pilihlah untuk selalu menjadi subjek (pelaku, pusat peristiwa), bukan objek (korban, akibat dari peristiwa)
  4. Belajarlah untuk bersikap asertif (mampu mengungkapkan pendapat secara jujur dan lugas, tanpa bermaksud menyakiti orang lain)
  5. Rasakanlah emosi negatif, mengalirkan, dan membuangnya

Mengubah submodalitas (panca indera) yang tadinya mengalami peristiwa tidak menyenangkan menjadi submodalitas yang menyenangkan. Hingga sewaktu-waktu ingatan buruk tersebut muncul kembali, emosi yang dirasakan sudah netral.

REFERENSI
Gani, A. H. (2011). Forgiveness therapy: “Maafkanlah, niscaya dadamu lapang”. Yogyakarta: Kanisius.
Rais, H., & Almahendra, R. (2018). I am sarahza. Jakarta: Republika.

____
*Didiskusikan pada Kajian Integratif Majelis Alfatihah
**Dosen Psikologi Islam IAIN Kediri, Pengurus dan Penulis di AKSARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *