Kupat dan “Simbol Dakwah” Sunan Kalijaga

Ketupat (Jawa: kupat)

Oleh: Saiful Mujab, MA.*

Sabtu, 30 Mei 2020, genap seminggu lebaran tahun ini sudah berlalu. Meskipun tidak se-gegap gempita tahun-tahun sebelumnya, momen sakral tersebut tetaplah menjadi hari raya yang paling “sesuatu” bagi umat Islam. Idulfitri tahun ini memang tidak lumrah, tidak ada salaman, tidak ada takbir keliling, mudik, dan bahkan jalanan pun terlihat ikut murung dan senyap. Suasana tersebut tentu karena dampak dari mewabahnya virus covid-19 yang melanda lebih dari 200 negara di dunia.

Di desa kami, Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, mungkin sama halnya dengan desa-desa lainnya di seantero negeri. Entah mulai kapan selalu mengadakan slametan kupat (baca; ketupat) setelah genap hari lebaran ke-7. Selain kupat, masyarakat kampung kami juga biasa membuat hidangan pengiringnya, seperti lepet (makanan dari beras ketan yang dibungkus memanjang dengan janur), tepo (lontong dalam ukuran jumbo dan biasanya dibungkus daun pisang), dan opor ayam.

Meskipun ritual wajib slametan  kupat tersebut sudah dilakukan puluhan dan bahkan mungkin ratusan tahun silam oleh masyarakat kita, namun ternyata tidak banyak juga di antaranya yang memahami makna terselip di dalamnya. Semuanya hanya  mengalir begitu saja menjadi sebuah lelaku dan tradisi yang kadang senyap makna.

Sejatinya, ketupat atau kupat menyimpan makna dakwah yang mendalam. Model dakwah dengan menggunakan simbol-simbol tersebut memang menjadi ciri-khas para walisongo, khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga (w. 1513), di dalam mengenalkan Islam dan budi pekerti luhur kepada masyarakat Jawa.

Kanjeng Sunan Kalijaga atau Raden Syahid (nama asli beliau), telah dianggap oleh kebanyakan orang Jawa sebagai sosok wali pribumi yang sangat piawai dalam berdakwah melalui simbol-simbol, seperti lakon wayang, tembang, gamelan, syair, dan tentunya berbagai ritus tradisi (salah satunya kupatan). Model dakwah tersebut memang terbukti cos pleng dan mampu memikat hati banyak orang untuk tresno terhadap Islam.

Dalam artikel ini, saya akan mengulas berbagai makna dan filosofi kupat berdasarkan beberapa sumber tulis dan lisan yang pernah saya lacak. Mari kita langsung mulai saja!

Sejarah dan Makna di Balik Kata Kupat

Tidak mudah bagi saya untuk melacak awal mula tradisi kupatan di tanah Jawa ini mengingat minimnya literatur yang menjelaskan muasal dari tradisi tersebut. Namun, bisa dipastikan bahwa tradisi kupatan bermula pada sekitar abad ke 15-16 masehi. Argumentasi ini berdasarkan pada periode dakwah walisongo yang dimulai pada tahun-tahun tersebut.

Selain itu, menurut sejarawan Asep Kambali dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia tahun 1438 H, beliau memprediksi muasal dari tradisi kupatan adalah dari masyarakat pesisir Jawa pada saat periode kerajaan Demak Bintoro (1475-1548 M). Hal tersebut berdasarkan genealogi beberapa tradisi Islam Jawa yang dirintis sebagai media dakwah walisongo pada saat itu, seperti sekatenan dan grebeg mulud. (sebagai catatan tambahan; kupat merupakan salah satu  menu wajib yang disuguhkan dalam dua acara yang diinisiasi oleh Sunan Kalijaga tersebut).

Selanjutnya, meskipun penulis belum menemukan data serta angka yang benar-benar meyakinkan mengenai muasal dari kupatan tersebut, namun jika dilihat dari segi bahasa, Sunan Kalijaga memaknai kupat dari dua suku kata; “ku” dan “pat”. “ku” memiliki makna “aku” atau kulo (saya), sedangkan “pat” berarti lepat (kesalahan). Kalau digabungkan, dua kata tersebut, kulo dan lepat memiliki arti sebuah ungkapan pengakuan “kesalahan” seseorang, “saya salah!” (berdasarkan sumber; “fakta data asal-usul ketupat” yang disiarkan oleh BeritaSatu TV tahun 2018)

Kanjeng Sunan Kalijaga, melalui perayaan kupatan tersebut, menyelipkan sebuah pesan penting “di hari yang penuh hujan cahaya/Idulfitri, (setelah seorang muslim menjalani sebulan penuh puasa ramadhan), rendahkanlah hatimu! dan mintalah maaf kepada orang-orang di sekelilingmu!

Maka tidak aneh, di hari Idulfitri (baca; lebaran dalam istilah Jawa) dalam masyarakat Jawa terdapat tradisi anjang-sana (tambahan keterangan; saling mengunjungi) dan silaturrahmi guna mengutarakan khilaf dan maaf antara satu-sama lain. Inilah yang akhirnya diberi nama “halalbihalal” oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah (salah satu pendiri Nahdlatul Ulama) pada era Presiden Soekarno.

Filosofi Kupat dari Segi Isinya

Kupat, jika dilihat dari segi bahan dasarnya terdiri dari beras dan janur. Kedua bahan tersebut sejatinya menyimpan sebuah makna simbolik yang greget.

Janur adalah daun kelapa yang masih muda, masih putih. Terkait dengan simbol di balik janur ini, Gus Muwafiq dalam sebuah ceramahnya pernah mengungkap bahwa makna janur  adalah akronim dari kata jatining-Nur atau dalam sudut pandang lughoh Arab adalah jaa nuur. Kedua terminologi tersebut masing-masing berarti “hati yang bercahaya” dan “hadirnya cahaya”.

Makna simbol dari janur sendiri hakikatnya adalah melambangkan hati seorang muslim yang putih bersih setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan.  Seperti dawuh baginda Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Abu Hurairah r.a: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap ridho Allah, maka seluruh dosanya yang telah lampau diampuni oleh Allah” (HR. Bukhori dan Muslim). Begitu bersihnya, sehingga hati seorang muslim diibaratkan bagai “dihujani cahaya”.

Janur dari sisi penggunaannya, berfungsi untuk membungkus isi dari kupat tersebut dengan dianyam tumpang tindih sedemikian rupa sampai-sampai isi beras yang ada di dalamnya tidak tumpah keluar. Hal ini melambangkan ajakan dari Kanjeng Sunan Kalijaga untuk merekatkan kembali “tali silaturahmi” dan “gotong-royong” saat momen lebaran tiba.

Dalam momen suci lebaran itulah, orang Jawa biasanya mulai merajut kembali hubungan persaudaraan yang dulunya mungkin ternoda oleh kemarahan, dengki, dendam, iri, dan sifat-sifat buruk lainnya.  Maka, tidak aneh apabila suguhan kupat (dalam tradisi lebaran) digunakan untuk menjamu para tamu yang datang berkunjung ke rumah-rumah masyarakat Jawa.

Terakhir adalah beras. Kita semua tahu bahwa isi kupat terdiri dari beras yang dikukus dalam waktu yang cukup lama di atas bara api panas, sampai-sampai beras tersebut lebur dan halus lembut menjadi makanan yang mudah untuk dicerna. Kyai Masyhudi (seorang muballigh dari Srengat-Kediri) pernah menjelaskan bahwa; “alus lan putihe isi kupat iku gambarane wong Islam sing wis rampung nglakoni poso romadhon, terus oleh ngapuro songko sepodo-podo!” (halus dan putihnya dari isi ketupat tersebut merupakan sebuah gambaran dari hati seorang muslim yang telah selesai menjalankan ibadah puasa dan mendapatkan maaf dari orang-orang sekelilingnya). Begitulah beberapa pesan dakwah Kanjeng Sunan Kalijaga yang tersirat-rapi dalam kupat. Sungguh PERFECTO bukan?

Penutup

Tiga penjelasan mengenai filosofi kupat di atas merupakan sebuah pelajaran “adiluhung” yang diinisiasi oleh Sunan Kalijaga dan walisongo dalam memberi tarbiyyah kepada masyarakat Islam Jawa. Dakwah yang dibungkus halus melalui simbol-simbol yang tertanam dalam kupat tersebut sejatinya mengandung pesan mulia yang syarat makna dan pelajaran untuk menjunjung tinggi puasa ramadhan dan sakralnya Idulfitri.

Akhirnya, semoga kita sebagai “wong Jowo” (baca; orang Jawa), tidak mengalami “kepaten obor” (hilangnya pedoman) dan keterputusan sejarah terhadap tradisi-tradisi luhur yang ditinggalkan leluhur, sehingga kita semua bisa tetap tampil menjaga tradisi tersebut dan memaknainya secara mendalam sebagai warisan luhur para leluhur.

____
*Dosen Studi Agama-Agama IAIN Kediri, Pengurus dan Penulis di AKSARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *