Kyai Bisri Syansuri dan Kyai Wahab Chasbullah: Dua Ulama yang Mencontohkan “Akhlaq” dalam Perbedaan

Oleh, Saiful Mujab, MA.*

Kyia Bisri Syansuri (lahir 1886) dan Kyai Wahab Chasbullah (lahir 1888) adalah dua ulama senior sekaligus salah satu muassis berdirinya Nahdlotul Ulama (ORMAS Islam terbesar dunia). Keduanya merupakan murid dan sekaligus sahabat dari Hadratush Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari, Tebuireng-Jombang.

Meskipun kedua ulama tersebut karib dan soulumate sejak nyantri di pesantren, juga memiliki hubungan keluarga beriparan (kyai Bisri menikah dengan adik dari kyai Wahab), tetapi kharakter beliau berdua yang bertolak-belakang membuat mereka  sering bersitegang dalam perdebatan panas nan sengit!

Perlu diketahui, Kyai Bisri Syansuri dikenal sebagai “jagoan” dalam ilmu fiqih dan hukum-hukum Islam. Begitu fasihnya dalam kajian fiqih tersebut, sehingga cucunya, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjuluki beliau sebagai; “pakar dan pecinta fiqih sepanjang hayat! Selain itu, mbah Bisri juga dipandang sebagai sosok yang zuhud (mengambil jarak dengan dunia) dan wara’ (menghindari betul dari dosa-dosa kecil). Kharakter kyai Bisri tersebut membuatnya dikenal sebagai ulama ahli hukum Islam yang mumpuni dan tegas tanpa kompromi.

Berbeda dari Pengasuh Pesantren Denanyar di atas, kyai Wahab Casbullah (pengasuh Pesantren Tambakberas), dikenal sebagai ulama cemerlang yang sangat menguasai ilmu ushul dan maqosid asy-syari’ah. Gagasan-gagasan segar kyai Wahab mengenai pembaharuan hukum-hukum Islam yang kontekstual membuat beliau mudah beradaptasi dan diterima oleh semua golongan. Konon, presiden pertama RI, Ir. Soekarno-pun sering sowan ke Tambakberas dan meminta pertimbangan kepada kyai Wahab terkait beberapa persoalan kenegaraan dan keagamaan.

Hal menarik yang perlu diketahui mengenai dua sosok sesepuh NU tersebut adalah seringnya mereka berdua terlibat dalam sengitnya perdebatan dan “duel” argumentasi. Bahkan, kyai Bisri Pernah dikisahkan menggebrak-gebrak meja saat beradu pendapat dengan kakak iparnya tersebut. Sampai-sampai seluruh kyai-kyai lain yang hadir dalam majelis tersebut terdiam-tunduk ketakutan melihat aksi dua kyai senior dalam sebuah forum bahstul masa’il.

Dalam artikel singkat ini, penulis akan memotret dua kisah perdebatan ulama kharismatik NU tersebut. Berikut ceritanya: 

Debat Sengit tentang Hukum Drum Band
Dikutip dari www. Muslimoderat.net, yang disahre oleh Kyai Cholil Staquf, dijelaskan bahwa; pada saat bahstu masa’il Nahdlotul Ulama yang diselenggarakan di wilayah Jawa Tengah, kyai Bisri terlihat murka dan tidak sependapat dengan kakak iparnya yang ngotot membolehkan hukum memainkan alat musik drum band. Begitu seriusnya kyai Bisri menolak pendapat kyai Wahab, beliau sampai menggembrak meja di hadapannya sampai terpental.

Melihat sikap adik iparnya tersebut, kyai Wahab tidak tinggal diam. Mbah Wahab yang juga dikenal sebagai “singa podium” itu bersikukuh dengan pendapatnya dan menimpali gebrakan meja kyai Bisri dengan menendang meja di depannya sampai terdengar suara “duaaar” yang sangat keras!

Dari sengitnya adu pendapat dua tokoh besar di Nahdlotul Ulama tersebut, para hadirin dan kyai peserta bahtsul masa’il di dalam ruangan itu menggigil ketakutan dan tak berani bercuit. Bahkan, dikisahkan sebagian peserta bahstul masa’il yang lain memilih untuk menutup kitabnya dan hanyut ketakutan dan menahan nafas dalam menyaksikan perdebatan sengit dua ualama tersebut.

Menurut penuturan kyai Staquf, konon sebagian hadirin mengira bahwa Nahdlotul Ulama akan terpecah gegara perbedaan hukum drum band dari dua tokoh sepuh NU tersebut. Namun siapa sangka, ketika waku jeda tiba, dan adzan dzuhur dikumandangkan, kyai Bisri Syansuri cepat-cepat keluar ke arah padasan (Gentong dari tanah liat yang dibuat pancuran buat berwudhlu) untuk mengambil air dari sumur dan kemudian mempersilahkan kyai Wahab untuk mengambil wudlu terlebuh dahulu, “monggo Kang, njenegan wudlu rumiyin!” (Silahkan kakak, anda berwudlu lebih dahulu!)  ucap kyai Bisri. Kyai Wahab-pun tersenyum lebar melihat sikap adik iparnya tersebut.

Selanjutnya, kyai Wahab-pun dengan tenang, seakan tak pernah ada pedebatan sebelumnya, menggandeng tangan kyai Bisri menuju masjid dan mempersilahkan mbah Bisri memimpin Sholat, “monggo yai, njenengan ingkang ngimami” (Silahkan kyai, anda yang memimpin sholat) ucap kyai Wahab. Melihat sikap kedua kyai kharismatik tersebut, para hadirin peserta bahstul masa’il lainnya hanya “melongo” seperti “kerbau dicocok hidung”, sambil terus bergumam dalam hatinya; “kok iso yo!” (kok bisa ya!) .

Beda Pendapat Mengenai Hukum Makan di Warung
Kisah lain mengenai perselisihan dua sahabat karib tersebut adalah mengenai; “hukum makan di warung pinggir jalan”. Dikisahkan, pada suatu malam, saat kyai Wahab dan kyai Bisri berada dalam satu mobil sepulang menghadiri sebuah acara, beliau berdua merasa “keroncongan”. Kyai Wahab secara sepontan “matur”; “Kang wetengku luwe, ayo golek maem nak warung!” (kak, perut saya merasa lapar, mari cari makan di warung!) ajaknya ke adik iparnya tersebut. Mendengar ajakan tersebut, dengan “style” dingin seperti biasa,  mbah Bisri menjawab; “Kyai kok maem nak warung! Mekruh iku kang, ngilangi muru’ah!” (kyai kok cari makan di warung! Itu hukumnya makruh, menghilangkan kewibawaan), jawabnya dengan nada agak tinggi.

Mendengar ketus jawaban kyai Bisri tersebut, mbah Wahab tanpa pikir panjang tetap menyuruh pak sopir untuk berhenti di sebuah “warung nasi” pinggir jalan. Dengan gaya khas beliau yang cuek dan  “santuy” , mbah Wahab dengan tanpa beban melahap bungkusan nasi di warung tersebut.

Selanjutnya, setelah Kyai Wahab selesai “dahar” di warung trotoar tersebut, beliau memberikan isyarat kepada si penjual warung  untuk membungkus 1 nasi; “Kang, tulung bungkus siji yo!” (Mas, tolong dibungkus satu ya!). hal tersebut beliau lakukan kareana kyai Wahab tau betul di dalam mobil ada adik iparnya yang juga sedang menahan perut “keroncongan”.

Setelah kyai Wahab selesai membayar semuanya, beliau kemudian berjalan menuju mobil. Sambil membuka pintu mobil belakang dan meyelinap masuk ke dalam, kyai Wahab menyodorkan “bungkusan nasi” kepada kyai Bisri; “iki kang, ndang di dahar!” (ini kak, silahkan dimakan!). melihat sodoran dari mbah Wahab Chasbullah, kyai Bisri menyambut bungkusan yang diberikan kakak iparnya tersebut, dan tanpa pikir panjang melahapnya sembari mobil terus berjalan. Dengan terkekeh kyai Wahab melirik kyai Bisri dan berujar; “kyai kok dahar karo mlaku to kang! Mekruh iku!” (kyai kok makan sambil jalan to kang! Makruh itu!). mendengar tawa dan sindiran kyai Wahab, mbah Bisri memilih diam dan melanjutkan santapannya tanpa menoleh lagi.

Penutup
Penggalan Cerita di atas adalah seklumit dari “eloknya” perselisihan mbah Bisri Syansuri dan mbah Wahab Casbullah yang unik. Beliau berdua memang sering berbeda, tetapi perbedaan tersebut sama sekali tidak menyulutkan “api permusuhan” apalagi “dendam” di hati mereka.  Di dalam perbedaannya, kyai Bisri dan kyai Wahab tetap menjaga “akhlaq” dan kasih sayangnya satu sama lain. Bener-benar “sesuatu” yang PERFECTO!

Sebagai penutup, ada sebuah kisah haru yang penuh pelajaran yang ingin penulis sampaiakan. Pada saat acara Mu’tamar NU ke-25 di Kota Surabaya (1971) diselenggarakan. Kyai Wahab Chasbullah,  yang  saat itu menjabat sebagai Rois ‘Aam, sudah sangat sepuh dan terbaring sakit hingga tak mampu untuk beranjak dari “kasurnya”. Suasana Muktamar didominasi oleh kehendak “suksesi”. Dapat dipastikan, bahwa seluruh peserta Muktamar Surabaya sepakat tanpa terkecuali menginginkan kyai Bisri Sansyuri tampil mengambil alih posisi Rais ‘Aam yang baru (menggantikan kyai Wahab Chasbullah). Tetapi siapa sangka, sebelum para muktamirin menyampaikan “uneg-uneg”-nya tersebut, kyai Bisri tampil di podium dengan mata yang berkaca-kaca dan sikap tegasnya yang tak bisa ditawar oleh siapapun! sembari berwasiat kepada seluruh muktamirin; “Catat! bagi seluruh peserta muktamar, Selama masih ada kyai Wahab Chasbullah, saya hanya mau menduduki jabatan di bawah beliau!”.  lahuma al-Fatihah

____
*
Dosen Studi Agama-Agama IAIN Kediri, pengurus dan penulis di AKSARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *