SAY NO TO HOAX: Solusi Profetik Penanggulangan Hoax

Oleh Roudlatunnasikah*

Kementerian Komunikasi dan Informatika telah merilis data pengaduan konten negatif yang disebarkan melalui aplikasi pesan instan sejak tahun 2016.  Ada 14 aduan konten di tahun 2016. Tahun 2017, meningkat menjadi 281 aduan, sebanyak 79 konten yang dilaporkan merupakan konten penipuan. Sedangkan tahun 2018, sejumlah 1440 merupakan konten negatif. Laporan terbanyak berkaitan dengan konten meresahkan atau hoax yang direkapitulasi sebanyak 733 laporan. Canggihnya dunia teknologi yang memudahkan akses informasi dalam dunia maya bisa mempercepat persebaran hoax apabila tidak digunakan dengan bijak.

Disamping itu, dalam fase pandemi saat ini juga tak luput dari berita hoax yang beredar di masyarakat. Minimnya pengetahuan dan kekhawatiran masyarakat awam terkait virus korona, akan mudah mengiyakan setiap informasi yang masuk, bahkan infromasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kevalidannya.  Pernah ada salah satu klaim berita yang merebak di masyarakat, yaitu “minum pemutih dapat menyembuhkan seseorang dari virus corona” dan teori-teori lainnya yang mengabaikan jalur kesehatan. Kondisi tersebut jelas merupakan ancaman yang serius terhadap keselamatan jiwa setiap insan. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang serius pula untuk mengantisipasinya dengan melibatkan semua elemen masyarakat lintas generasi, terutama para pemuda yang di tangan mereka masa depan umat ditumpukan.

Melalui tulisan ini, penulis akan menawarkan konsep yang memuat langkah-langkah solutif untuk mengantisipasi dan memerangi persebaran hoax dalam bingkai persepektif kenabian, disarikan dari hadis-hadis anti hoax. Langkah ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan seputar bagaimana Allah dan Rasulullah menekankan agar kita tidak mudah menyebarkan berita sebelum melakukan verifikasi, kemudian bagaimana kita mengimbangi penyebaran hoax dan informasi-informasi negatif dan bagaimana kita memaksimalkan fungsi lisan untuk berkomunikasi secara positif dan berperilaku yang baik dalam bingkai akhlak mulia serta bertindak proporsional. Dengan demikian, diharapkan akan tercipta suasana yang kondusif, aman, damai, nyaman dan tenteram menuju terwujudnya negera makmur sentosa dalam ampunan Tuhan Yang Maha Esa.

MEMERANGI HOAX DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI
Verifikasi sebelum Menyebarkan Informasi

Islam mengajarkan umatnya agar melakukan penyaringan terlebih dahulu terhadap berita atau informasi yang diterima sebelum meneruskannya kepada orang lain. Apabila kebenaran dari suatu berita belum diketahui, hendaknya tak perlu disebarluaskan. Sabda Rasulullah SAW. dalam riwayat Imam Muslim: “kafa bi al-mar’i kadhiban an yuhadditha bikulli maa sami’a” artinya “Cukuplah seseorang dianggap pendusta ketika dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa saja yang ia dengar.”

Hadis tersebut mengisyaratkan sebuah peringatan kehati-hatian dalam menyikapi sebuah berita, karena berita dimungkinkan benar atau dusta. Maka, apabila seseorang menyampaikan semua berita yang dia dengar tanpa melakukan verifikasi, maka dia bisa disebut sebagai pendusta. Pemaknaan hadis tersebut dapat  di-munasabah-kan dengan makna Q.S. al-Hujurat (49): 6. Kandungan ayat tersebut berisikan anjuran kepada umat Islam agar berhati-hati dan melakukan verifikasi ketika menerima berita dari orang yang fasik.

Berkomunikasi dan Bertindak Positif-Proporsional
Islam merupakan agama yang tidak hanya berdimensi spiritual, namun juga sosial. Kesalehan muslim tidak hanya diukur dari bagaimana dia menjalankan ketaatan dalam ibadah spiritual, namun juga diukur bagaiman dia dalam kehidupan sosial. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “al muslimu man salima al muslimuuna min lisanihi wa yadihi.” Artinya, “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin lainnya selamat dari (keburukan) lisan dan tangannya.” Dalam hadis tersebut, tampak dua indikator yang disebut oleh Rasulullah sebagai tolok ukur kualitas keislaman, yaitu lisan dan tangan (yad).

Makna lisan di sini, interpretasinya mengarah kepada ucapan yang masuk kedalam komunikasi positif. Komunikasi yang positif merupakan satu diantara indikator kualitas keislaman seseorang. Dalam perspektif Psikologi Komunikasi, komunikasi positif merupakan penyampaian pesan yang memberikan efek rasa tenang terhadap respoden (comforting messaging). Secara aplikatif, komunikasi positif dapat dicontohkan dengan gerakan menyebarkan konten posistif melalui media-media sosial. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah  “wa atbi’i al-sayyiat al-hasanata tamkhuhaa ” artinya “iringilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapusnya.” Penyebaran konten-konten positif yang dilakukan secara masif diharapkan dapat mengalahkan -setidaknya sebagai penyeimbang- dominasi konten-konten negatif.

Terkait makna tangan (yad) setidaknya mengisyaratkan dua makna. Pertama, perbuatan (adab) merujuk kepada akhlak dan budi pekerti yang baik. Tangan juga bisa dipahami sebagai proporsi, merujuk pada  tafsir Fakhruddin al-Razi dalam  Kitab Mafatih al-Ghaib atau yang masyhur dengan al-Tafsir al-Kabir. Al-Razi mengemukakan bahwa tegaknya dunia ini ditentukan atas empat pilar yang ditinjau dari peran manusia sesuai proporsinya. Apabila masing-masing komponen dapat mengambil peran yang positif sesuai proporsinya, maka dapat  terwujud kedamaian, keamanan, kesejahteraan dan kebaikan. Proporsi tersebut dikelompokkan dalam empat kategori: ilmunya ulama, keadilan pemimpin, kedermawanan orang-orang kaya, dan doa orang-orang fakir.

Peredaran berita hoax yang kian meningkat dari tahun ke tahun diperlukan tindakan yang serius untuk mengantisipasi dan menangkalnya. Dalam hal ini, peran pemuda sebagai pemegang tanggung jawab masa depan umat sangat dibutuhkan. Terkait pertanyaan bagaimana mengantisipasi dan memerangi hoax, Islam telah menawarkan konsep ideal yang solutif melalui sabda-sabda Rasulullah yang dapat dirumuskan dalam beberapa tindakan sebagi berikut: (1) Melakukan verifikasi (tabayyun) sebelum menyebarkan informasi yang kita terima; (2) Melakukan gerakan penyebaran konten-konten positif untuk mengimbangi penyebaran hoax dan konten negatif; dan (3) Membiasakan diri berkomunikasi positif, juga bersikap maupun bertindak positif sesuai proporsi masing-masing untuk mengupayakan terciptanya suasana damai, aman, nyaman dan tenteram.

____
*Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis IAIN Kediri dan anggota Forum Kajian Integratif Majelis Alfatihah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *