Murid Dalam Cara Pandang Imam Al-Ghazali

Oleh Radinal Mukhtar Harahap, S.H.I., M.Pd.

 

Sebuah tulisan, selain berguna untuk menyimpan atau menyampaikan informasi, juga bermanfaat untuk bahan refleksi diri. Sebagaimana tulisan ini, merupakan refleksi bagi saya dalam menjalani aktivitas sehari-hari sebagai guru. Saya juga berharap, tulisan ini dapat menjadi refleksi bagi guru-guru sejawat, di mana pun mereka berada. Imam Al-Ghazali pernah memuji kita, “asyraf maujûd ‘alâ al-ardh jins al-insân (makhluk yang paling mulia yang pernah ada dari jenis manusia) yang memberi perhatian mendalam pada perkembangan dan kesucian hati muridnya di saat semua menyadari bahwa hati adalah sesuatu yang paling berharga dalam diri setiap yang bernyawa.”[1] Sangat miris jika kemudian profesi guru hanya dipandang sebagai batu loncatan karena tidak bergengsi, padahal keutamaannya begitu tinggi, bahkan Nabi mendaulat diri, “mu’alliman”, sebagai seorang guru.[2]

Satu di antara yang menarik dari Imam Al-Ghazali adalah cara pandangnya terhadap murid. Setidaknya dapat direfleksikan dari karya beliau yang berjudul Ayyuhal Walad. Sebuah jawaban ringkas imam bergelar Hujjatul Islam atas kebingungan muridnya tentang pelajaran yang ia peroleh hal manakah yang paling penting bagi hidupnya di dunia maupun akhirat. Dari penulisan judul saja terlihat bahwa antara beliau dan muridnya, tak ingin berjarak, melainkan ingin seperti ayah dan anak. “Sebagaimana ayah memandang anaknya, seperti itu pula seharusnya guru memandang muridnya,” kira-kira itu pesan yang terkesan dari buku tersebut.

Lalu, bagaimana seharusnya ayah memandang anaknya?

“….. إذا قرأت العلم أو طالعته ينبغي أن يكون علمك يصلح قلبك ويزكي نفسك، كما لو علمت أن عمرك ما يبقى غير أسبوع فبالضرورة لا تشتغل فيها بعلم الفقه والأخلاق والأصول والكلام وأمثالها. لأنك تعلم إن هذه العلوم لاتغنيك. بل تشتغل بمراقبة القلب ومعرفة صفات النفس والأعراض عن علائق الدنيا وتزكي نفسك عن الأخلاق الذميمة وتشتغل بمحبة الله تعالى وعبادته والإتصاف بالأوصاف الحسنة”

“….Ketika membaca ilmu pengetahuan dan mempelajarinya kembali, sebaiknya ilmumu itu bisa memperbaiki hatimu dan membersihkan jiwamu. Seperti halnya apabila kau telah mengetahui bahwa umurmu yang tersisa kurang satu minggu, pastilah kau tidak akan tersibukkan dengan ilmu fiqih, ilmu akhlaq, ilmu usul, ilmu kalam, dan ilmu-ilmu lainya karena kau sudah mengetahui bahwa ilmu-ilmu tadi tidak akan mencukupimu. Namun, sebaiknya kau tersibukkan dengan: (1) mengoreksi hati, (2) mengetahui sifat-sifat (kecenderungan) hati dan jiwa, (3) memalingkan diri dari hubungan keduniawian, (4) membersihkan hatimu dari akhlak-akhlak tercela, (5) menyibukkan diri dengan mencintai Allah ta’ala dan beribadah pada-Nya, (6) menghiasi diri sepenuhnya dengan sifat-sifat yang baik.”[3]

Singkatnya, kebaikan hati dan kebersihan diri dari akhlak-akhlak tercelalah yang diimpikan seorang ayah dari anaknya. Ilmu-ilmu yang dikuasai si anak (disebut Al-Ghazali di atas; ilmu fiqih, ilmu akhlaq, ilmu usul, ilmu kalam, dan ilmu-ilmu lainya) justru tidak menjadi pandangan utama. Maknanya untuk konteks kekinian, orang tua sebenarnya ingin si anak cukup menjadi orang baik apapun latar belakang keilmuannya. Begitu pula sebaiknya seorang guru, memastikan muridnya untuk menjadi baik secara hati maupun secara akhlak, apapun keahlian akademiknya. Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang didaulat sebagai pemikir agung kontemporer saat ini menyebut, “tujuan pendidikan itu sebenarnya adalah melahirkan insan-insan beradab.”

Lalu, dapatkah argumentasi di atas dipahami oleh murid untuk menjadi seorang yang baik meskipun tanpa ilmu yang mendalam?

Izinkan saya menjawab dengan ungkapan, “orang yang baik tidak akan mengabaikan ilmu dalam kehidupannya sebagaimana seharusnya orang yang berilmu akan selalu berusaha menjadi manusia yang baik. Tanpa ilmu, kebaikan manusia cenderung palsu sebagaimana dengan ilmupun tidak tertutup kemungkinan seseorang dapat menjadi manusia palsu. Manusia yang salah dalam menempatkan ilmu adalah yang salah dalam bersikap dan salah dalam menentukan tujuan kehidupannya.

Dengan demikian, memandang murid melalui perspektif Al-Ghazali, sepatutnya menjadi pemikiran para guru. Jangan lagi obsesi yang ditawarkan oleh mereka adalah profesi bergengsi dan jabatan menggiurkan di dunia semata. Jangan pula mereka mewartakan cita-cita tinggi tetapi justru menjatuhkan budi pekerti. Jadikanlah murid-murid sebagai orang yang baik, baik perangainya, baik akhlaknya, baik budinya, baik keilmuannya dan baik kehidupannya kelak.

Wallahu a’lam.

 

[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, jilid I (Kairo: Maktabah Mishr, 1434 H/2013 M), h.29.

[2] Hadis tentang Rasul diutus untuk menjadi guru diriwayatkan dalam Ibnu Majah, Muqaddimah, Bāb Fadl al-‘Ulamā’ wa al-Ḥiṡṡ ‘alā Ṭalab al-‘Ilm, 229. Lihat dalam A. J. Wensinck, al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfāẓ al-adīṡ al-Nabawi, Jilid I (Leiden : E. J. Brill, 1936), h.194

[3] Hujjatul Islam Muhammad bin Muhammad Abi Hamid Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, cet. IV (Beirut-Lebanon: Syirkah Dar al-Basya’ir Al-Islamiyah, 2010), h.146.

====
*Penulis adalah Staff Administrasi di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Beliau cukup produktif menulis beberapa buku dan jurnal ilmiah. Beliau juga termasuk tim pengelola Rawda Publishing dan Idrak: Journal of Islamic Education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *