Hormat Bendera dalam Perspektif Islam

Ilustrasi: Santri hormat Bendera Merah Putih

Oleh Rahman, M.Ag.*

Pendahluan

Setiap tahun bangsa Indonesia telah memperingati HUT Kemerdekaan RI  yang dilaksanakan pada setiap tanggal 17 Agustus diberbagai tanah air sebagai bentuk kecintaan terhadap NKRI hasil perjuangan para pahlawan. Dalam pelaksanaan peringatan HUT Kemerdekaan RI, tersebut seringkali kita memperingatinya dengan melakukan upacara dengan berbagai elemen bangsa ditanah Air dan  juga melaku kan penghormatan terhadap sang saka Merah Putih sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang disertai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Pada saat bangsa Indonesia sedang merayakan HUT Kemerdekaan RI, muncul informasi yang menciderai kegembiraan anak bangsa, bahwa ada beberapa sekolah yang tidak mau melakukan upacara dan penghormatan kepada bendera Merah Putih. Berikutnya, di sebua SMP di Batam ada dua siswa yang tidak mau menghormati bendera dan menyanykan lagu kebangsaan, akhirnya kedua siswa tersebut dikembalikan kepada orang tuanya agar tidak mempengaruhi siswa yang lain. Kendati sudah diadakan mediasi,  namun siswa tidak mau mengubah sikapnya. (detiknews, 2019).

Juga kasus di Karanganyar Jawa Tengah, ada dua sekolah Islam, SD dan SMP yang mengharamkan dan menganggap syirik penghormatan bendera dengan alasan bendera merupakan benda mati. Pengharaman tersebut juga dengan dalih hormat bendera disamakan dengan gerakan I’tidal dalam sholat. (detiknews, 2011).  Di wilayah Kabupaten Magelang, muncul pula sejumlah pondok Pesantren dadakan yang melarang kegiatan pengibaran bendera dan juga menyanyikan lagu kebangsaan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Mahfud MD. (BNews, 2012)

Fenomena serupa juga terjadi dibeberapa sekolah diwilayah di NKRI ini. Hal ini adalah bukti nyata melemahnya perekat dalam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia serta memudarnya rasa cinta terhadap tanah air serta perjuangan para pahlawan. Dan kesalahan yang fatal adalah meng-anggap syirik pelaku yang meng-hormati bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Permasalahannya adalah benarkah menghormati bendera dengan sepenuh jiwa tergolong perbuatan syirik sehingga pelakunya dianggap musyrik…?

Hormat Bendera Bukan Syirik

Ulama telah menegaskan, hakikat agama Islam adalah wahyu yang bersumber Allah  Swt dan Rasul-Nya. Dasar paling pokok dalam Islam adalah melaksanakan ibadah kepada Allah Swt dan internalisasi nilai-nilai akidah. Al-Qur`an dan sunnah didalamnya telah mencakup seluruh persoalan kehidupan umat manusia khususnya pada aspek agama, baik yang berkaitan dengan akidah dan ibadah maupun masalah mua`malah dan sebagainya.

Sebagian kelompok umat Islam yang telah menggeneralisir bahwa akidah men-cakup ritus-ritus praksis menyangkut kecintaan terhadap tanah Air dan praktek simbolis yang biasa kita lakukan sehari-hari.  Merujuk pendapat Imam al-Ghazali bahwa akidah sebagai upaya untuk menancapkan keyakinan dalam hati bahwa Allah itu Esa. Yang perlu dipertegas disini bahwa akidah bukan bermakna sekadar simbolik. Akidah harus benar-benar merasuk ke dalam jiwa dan raga seseorang tanpa harus terjebak pada simbolisme semata. 

Proses simbolik, semisal sujud, tasbih, dan sebagainya merupakan langkah selanjutnya setelah seseorang berakidah. Namun, aspek tersebut bukan lagi menjadi wilayah akidah, melainkan sudah masuk pada wilayah syariat. Jika demikian, persoalan syirik atau tidak, bukan lantas menjadi legitimasi umum yang mencakup segala aspek tanpa merujuk pada keyakinan personal. Akidah selalu dikontraskan dengan konsep syirik atau politeisme. Masih menurut Imam al-Ghazali, keyakinan kepada transendensi Tuhan terletak pada hati nurani. Artinya, pergeseran akidah hanya bisa terjadi, jika keyakinan dalam hati juga ikut bergeser. Oleh karenanya, dalam konteks menghormati bendera yang merupakan lambang negara, dalam hal ini ada dua kemungkinan yang bisa memantik pergeseran keyakinan.

Pertama, jika seseorang menghormati bendera dengan berdasarkan keyakinan bahwa bendera itu sakral dan memiliki kedudukan hampir sama atau bahkan menyamai kedudukan Tuhan, jelas ini tidak boleh dilakukan karena akan menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan syirik. Kedua, jika upacara penghormatan bendera yang dilakukan hanyalah sebentuk apresiasi kecintaan terhadap tanah Air dan sebagai perwujudan identitas dalam berbangsa dan bernegara, dan hal ini tidak dapat dikategorikan syirik.

Sebagaimana diketahui bahwa setiap ibadah harus didasari dengan niat yang ikhlas, sebagaimana dalam QS. al-Bayyinah ayat 5 sebagai berikut:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ …

Dan mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurni kan ketaatan kepada-Nya dalam agama dengan lurus.

Rasulullah Saw juga telah menegaskan dalam sabda beliau :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya segala amal perbuatan berdasaarkan niat. Bagi seseorang itu dia akan memperoleh apa yang diniatkannya. (HR. al-Bukhori)

Berpedoman kepada ayat al-Quran dan hadis Nabi Saw tersebut diatas, para ulama telah menetapkan kaidah :

اَلأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا                                   

Segala sesuatu (perbuatan) tergantung pada tujuannya. (Lihat al-Asybah wa al-Nazhair, hlm. 16)

 

Maksdudnya adalah bahwa setiap amal perbuatan, baik dalam hubungan nya dengan Allah Swt mau pun dengan sesama makhluk, nilainya ditentukan berdasarkan niat, serta tujuan dilakukannya perbuatan tersebut. Adapun di dalam urusan ta’bbudi (ibadah mahdhah), selain niat, tentu ibadah tersebut harus memenuhi rukun dan syaratnya. Sehingga menentukan sah dan tidak sahnya suat ibadah haruslah diukur dengan dalil-dalil dari al-Quran dan sun-nah. Sedangkan dalam urusan muamalah pada asalnya memilki landasan hukum mubah/boleh/halal. Kecuali jika terdapat dalil dari al-Quran dan sunnah yang mengharamkannya.

Niat, disamping sebagai alat penilai perbuatan, niat juga merupakan ibadah tersendiri, seperti yang dapat dipaham dari hadis Nabi SAW :

نِيَّةُ الْمُؤمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ (الحديث)

Niat seseorang mukmin itu lebih baik dari pada amalnya yang disertai tanpa niat. (HR. at-Thabrani).

Oleh karena itu, yang menjadi permasalahan pokok bukanlah sebenarnya menghormati bendera atau memasang bendera, karena pekerjaan tersebut hanyalah pekerjaan yang mengikuti. Dan hukumnya akan mengikuti hukum yang diikuti pada permasalahan yang pokok. Itulah sebabnya, boleh atau tidaknya serta atau halalnya menghormati bendera harus dilihat dari motivasi ketika menghormati bendera dan apa yang menjadi permasalahan pokoknya.

Menghormati bendera, dengan maksud untuk menghormatinya sebagai lambang supremasi Negara Republik Indonesia. Adanya bentuk kerajaan, kekai saran, dan berkembang munculnya Republik, dan lain-lain, pada masa Rasulullah Saw beliau tidak menghapuskannya. Dengan demikian, meng-hormati bendera sebagai lambang dan berdaulatnya suatu suatu Negara hukumnya adalah boleh.  Rasulullah Saw besabda:

إِنَّ اللهَ حَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَفَرَضَ لَكُمْ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَتَرَكَ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَكِنْ رَحْمَةٌ مِنْهُ لَكُمْ فَاقْبَلُوهَا وَلاَ تَبْحَثُوا فِيْهَا.

Sesungguhnya Allah swt. telah membuat batas-batas. Maka kalian jangan melampaui batas. Allah swt. telah mewajibkan beberapa kewajiban bagi kamu, maka janganlah kalian mengabaikannya. Dan Allah Swt. telah mengharam kan beberapa perkara, maka kalian jangan melanggarnya. Dan Allah Swt. telah membiarkan beberapa perkara. Itu bukanlah karena lupa-Nya, melainkan rahmat dari pada-Nya, maka terimalah dan kalian jangan membahasnya. (HR. al-Hakim)

فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : الْحَلالُ مَا أَحَلَّ اللهُ فِي الْقُرْآنِ، وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللهُ فِي الْقُرْآنِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَقَدْ عَفَا عَنْهُ.

Nabi SAW telah bersabda, “Yang halal itu apa-apa yang Allah Swt halalkan dalam al-Quran dan yang haram itu apa-apa yang Allah Swt haramkan dalam al-Quran. Dan apa-apa yang didiamkan oleh Allah Swt. maka Allah Swt. memaafkannya.” (HR. at-Thabrani)

Berdasarkan keterangan tersebut diatas para ulama menyatakan kaedah sebagai berikut:

اَلأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ، حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

Hukum yang pokok dari segala sesuatu adalah boleh, sehingga terdapat dalil yang mengharamkan. (Lihat al-Asybah wa al-Nazhair hlm. 82-83)

Pada masa Rasul saw, Rasul saw pernah memerintahkan para sahabat yang ikut dalam pasukan perangnya, untuk membawa bendera, dan jangan sampai bendera tersebut ketangan musuh. Bahkan ketika pembawa bendera pertama terbunuh, maka sahabat lainnya dengan cepat mengambil bendera tersebut dan kembali mengibarkanya. Tentu pekerjaan sahabat Nabi Saw. ini bukan sedang mengibadahi bendera tetapi menempatkannya sebagai suatu lambang perjuangan dan juga Negara.

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Sahl bin Sa’id, bahwasanya Rasulullah SAW pada waktu perang khoibar bersabda :

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّ الله َوَرَسُوْلَهُ وَيُحِبُّهُ الله ُوَرَسُوْلُهُ يَفْتَحُ الله ُعَلَى يَدَيْهِ

Sungguh besok aku akan berikan bendera ini kepada seorang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan rasul-Nya, Allah akan menangkan melalui kedua tanganya” (HR.Muttafaq ‘alaih)

Dalam kelanjutan riwayat diatas disebutkan bahwa para shahabat sampai begadang tengah malam hanyalah untuk membicarakan, siapakah gerangan yang bakal diserahi bendera oleh Rasul Saw tersebut? Bahkan mereka para sahabat berkeinginan untuk mendapatkannya, dan ternyata yang mendapatkannya adalah Ali bin Ali Thalib. Riwayat ini jelas menunjuk kan bahwa bendera tersebut sudah ada pada masa Rasul Saw, bahkan juga digunakan untuk kepentingan Jihad fisabilillah.

Akan tetapi apabila dikultuskan atau disakralkan dengan keyakinan bahwa bendera itu memiliki kekuatan gaib dibalik kekuatan bendera sebagai lazimnya, sebagaimana memberhalakannya orang-orang para penyembah berhala, tentu saja termasuk perbuatan syirik. Oleh karena itu, menghormati bendera merupakan urusan keduniaan yang hukumnya boleh. Bukan haram dan bukan pula syirik.  Dan tentu saja, bukanlah hal yang mustahil apabila suatu Negara akan mengganti benderanya, karena semua Negara didunia ini mempunyai bendera. Jadi, masalah bendera ini jelas merupakan masalah keduniaan, bukan masalah keyakinan sacral terkait dengan akidah.

Salah seorang ulama Mesir yang bernama Syekh Usamah al-Qushi pernah ditanya terkait hukum menghormati bendera.

 السؤال : ما حكم الوقوف لتحية العلم ؟

Pertanyaan,  Apa hukumnya berdiri untuk menghormati bendera?”

الجواب : لا حرج, ولا علاقة له بالدين ولا يعارض الإسلام في الشيء وليس هذا تعبدا, أنت لا تقف للعلم عبادة له, إنما هذا رمز يجب على الناس احترامه, وهذا من أمور الدنيا وليس مرادا لذاته. إنما يمثل شيئا يعني هذه القطعة من القماش لا تعظم لذاتها

Tidak masalah. Hormat bendera itu tidak berkaitan dengan agama dan sedikit pun tidak bertentangan dengan Islam. Hormat bendera bukanlah perkara ibadah. Anda tidaklah berdiri dalam hormat bendera karena beribadah kepada bendera. Bendera hanyalah simbol yang wajib dihormati oleh warga negara. Hormat bendera adalah bagian dari perkara dunia. Hormat bendera itu bukanlah hormat kepada selembar kain. Kain disini hanyalah mewakili sesuatu. Artinya, selembar kain bendera itu tidaklah dihormati karena kainnya.

وكانت الراية موجودة على عهد رسولنا صلى الله عليه وسلم و كان لها احترام

Bendera itu sudah ada dimasa Rasulullah Saw dan juga dihormati oleh para sahabat.

نعم لم يكن احترام بنفس الصورة التي نحن نفعلها اليوم لأن الدنيا, مظاهر الحياة الدنيوية تختلف من عصر إلى عصر ومن مكان إلى مكان. التعظيم والاحترام كان له طريقة مختلفة

Memang, kata beliau, bendera tidaklah dihormati dengan cara penghormatan yang kita laku kan saat ini, karena perkara dunia itu berbeda antara satu zaman dengan zaman berikutnya, antara satu tempat dengan tempat yang lain. Jadi cara menghormati sesuatu itu wajar saja jika berbeda.

فكانت الراية فقط في حالة الحرب وكانت ترفع كرمز للعزة ورمز للإباء والصمود يعني طال ما هذه الراية مرفوعة فمعنى أن الجيش صامد وثابت, سقوط الراية كان يعني انهيار الحالة الروح المعنوية يعني لو استطعنا أن نسقط راية العدو أو نسقط أو نقتل شخص الذي يحمل الراية هذا يبث روح الهزيمة في جوش الآخر ونفس شيء في جيشنا فكانت الراية يحرص الجيش على أن تبقى هذه الراية مرفوعة و خفاقة طوال المعركة والعدو يحرص على قتل حامل الراية كما يحرص على قتل قائد الجيش يعني هذا مراد هدف

Di masa silam bendera hanya dikibarkan saat perang saja. Ketika itu bendera dikibarkan sebagai simbol kemuliaan, kemuliaan dan ketidak tundukan terhadap musuh. Artinya selama bendera berkibar tinggi berarti pasukan masih eksis dan gagah. Jatuhnya bendera berarti hancurnya spirit pasukan. Sehingga jika kita mampu menjatuhkan bendera musuh, menjatuhkan atau membunuh orang yang memegang bendera musuh maka spirit kekalahan akan menyebar ditengah-tengah pasu-kan musuh. Hal yang sama juga akan dialami oleh pasukan kaum Muslimin. Oleh karena itu, pihak musuh berupaya agar bendera tetap berkibar tinggi selama peperangan berlangsung. Musuh sangat antusias untuk membunuh orang yang membawa bendera sebagaimana berantusias untuk membunuh panglima perang. Dengan kata lain, bendera adalah salah satu target dan sasaran musuh.

وبالتالي احترام الراية ورفعها وكونها تخفق هذا أمر له أصول حتى في زمان النبي الكريم صلى الله عليه وسلم. فتحية العلم ليست محرمة.

Jadi hormat bendera, mengerek dan mengibarkannya adalah perkara yang memiliki landasan yang sudah ada pada masa Nabi Saw. Kesimpulannya, hormat bendera bukanlah hal yang haram.

كلنا قلنا نحرم تحية العلم في مرحلة من المراحل في حياتنا الدينية, نظرا لقصر فهمنا وقلة علمنا.

Semua kita dulu pernah mengharamkan hormat bendera pada salah satu fase kehidupan beragama kita mengingat kedangkalan pemahaman dan terbatas nya ilmu yang kita miliki.

فقلنا نقول إنما الوقوف خشوعا يكون لله وحده لا شريك له وهذا صحيح, الوقوف خشوعا تدينا عبادة, هذا لا يكون لله إلا لله رب العالمين

Kami katakan bahwa berdiri dengan penuh penghinaan diri (tazallul) hanya boleh untuk Allah semata. Ini adalah keyakinan yang benar. Berdiri dengan penuh penghinaan diri, dalam rangka beribadah dan menghambakan diri hanya boleh untuk Allah Rabb semesta alam.

لا يصح أن نقف خاشعين تعبدا ولا حتى لرسولنا صلى الله عليه وسلم ولا لمشايخنا ولا لآبائنا تعبدا

Kita tidak diperbolehkan untuk berdiri dengan penuh penghinaan diri dan dalam rangka menghambakan diri bahkan untuk Rasulullah Saw, apalagi sekedar guru ataupun orang tua. Ingat yang tidak boleh adalah berdiri dalam rangka meng-hambakan diri.

أما احتراما لا، فهذا أمر من أمر الدنيا لا دخل له بالدين لا من قريب ولا من بعيد ولا يعتبر عبادة ولا يعتبر تدينا وبالتالي مثل هذا هو من العادات وليس من العبادات وعليه لا شيء فيه إن شاء الله

Sedangkan, berdiri menghormat itu lain. Berdiri menghormat itu termasuk urusan dunia dan sama sekali tidak terkait dengan agama, tidak dinilai sebagai ibadah dan agama. Sehingga perkara semacam ini termasuk perkara non ibadah dan bukan termasuk perkara ibadah mahdhah. Berdasarkan hal itu maka berdiri hormat bendera Insya Allah tidaklah mengapa.”

Penutup

Menghormati bendera selama bukan menganggap bendera sebagai sesuatu yang sakral dan bukan bagian dari ibadah dan akidah. Bendera hanyalah sebagai lambang dan simbol Negara, maka menghormati bendera bukanlah syirik. Jika ada sekelompok orang yang mengatas namakan Islam memfatwakan haram, tetapi saya meyakini al-Qur`an, sunnah, ijma` dan atsar sebagai rujukan tidak mengungkapkan adanya dalil secara tegas yang melarangnya. Jikapun ada ulama yang melarang, itu hanyalah ijtihad pribadi dan tidak ada kesepakatan ulama haramnya menghormati bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan.

Bahkan jika kemudian ada sekelompok orang memprovokasi untuk menolak bendera Merah Putih Indonesia, dapat dipastikan bahwa itu kelompok radikalis yang sebenarnya ingin merusak NKRI. Merah Putih sebagaimana diungkapkan Maulana Habib Lutfi bin Yahya seorang ulama yang cukup disegani mengatakan bukanlah hanya sekedar warna dari bendera Indonesia, tetapi memiliki makna yang tinggi bagi kebanggan dan kewibawaan Bangsa. Sehingga wajib hukumnya dihormati.  Kalau tidak mau hormat kepada Bendera Merah Putih, silahkan keluar dari Indonesia. Fanatisme terhadap Indonesia mutlak dimiliki umat Islam Indonesia. Harusnya kita malu kepada para pendahulu kita yang telah menegakkan Indonesia. Kemerdekaan bukanlah hasil dari hadiah, tetapi melalui perjuangan yang banyak memakan korban.

Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian, jika ada sekolah yang melarang siswa menghormati bendera dengan alasan syirik, maka pelarangan tersebut jelas-jelas sudah tidak sesuai dengan jati diri bangsa kita. Sekolah tersebut sudah saatnya pertanyakan komitmen kebangsaannya, jika perlu saya himbau umat Islam jangan lagi menyekolahkan anak-anaknya disekolah tersebut karena akan mematikan semangat mencintai tanah air. Kepada Kementerian Agama perlu melakukan pemantauan terhadap sekolah-sekolah tersebut jangan sampai kemudian melahir kan generasi bangsa radikalis yang dapat mengancam NKRI. Wallahu a`lam.

=====
*Penulis adalah Dosen pada Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beliau juga termasuk Pengurus ISNU Riau periode 2014-skarang. Berdomisili di Jl. HR. Soebrantas Perum. Mirama Indah II Blok D 16 RT 04/ RW 06 Kel. Tuah Madani Kec. Tampan Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *